Minggu, 28 Mei 2017

SAJAK



RUANG KERINDUAN

Mengutip rindu melalui derasnya hujan
Yang mengguyur pelan-pelan hingga jatuh berpelukan
Memeluk bumi yang sudah lama dinantikan
Tak sabar hati untuk sampai ditempat peraduan

Jiwa gelisah menunggu kabar
Dari dirinya yang sudah lama meraja
Menjadi penghuni tetap disinggasana hatinya
Menaruh harap dengan hati yang tak gentar

Sang perindu mulai menuliskan harapannya
Melantunkan doa dipenghujung malamnya
Melalui sujud-sujud panjangnya
Terangkai bait kerinduan untuk dia yang jauh disana

Ia biarkan doa itu menggema
Memenuhi ruang kesendiriannya
Menyatu dalam kehangatan cintanya
Tenggelam bersama kesunyian yang menjelma

Ia biarkan doa itu melayang
Menuju ke singgasana-Nya
Membiarkan bayu membawanya terbang
Melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya

Hanya keyakinan yang dia miliki
Hingga suatu saat nanti
Ketika semua itu terjadi
Hanya penyatuanlah yang dia ingini.

Seperti hujan yang merindukan bumi
Maka seperti itulah yang ia rasakan kini
Biarkan tetes-tetes air hujan itu menderas
Selayaknya rindu yang semakin berbekas.

Kartasura, 28 Mei 2017
Created by Dewi Suniyah

Rabu, 27 Juli 2016

Catatan Ramadhan

Batas Yang Tersembunyi
Oleh Dewi Suniyah

Ada batas yang tak bisa aku lewati. Yang memaksaku untuk berhenti saat aku ingin melewatinya. Ada batas dimana aku tak bisa untuk berbuat lebih. Batas yang selalu membatasi diriku agar tak berbuat semauku. Batas yang mengikatku pada sebuah perjanjian. Perjanjian diri yang tak bisa aku ingkari. Batas yang dengannya aku harus bertindak sesuai dengan aturan-aturan-Nya. Batas yang dengannya aku harus belajar kesabaran. Dan batas yang dengannya aku bisa menjaga diri dari bahaya nafsu duniawi.
Batas yang membuat diriku termenung disetiap penghujung malam. Batas yang dengannya aku merasa kecil dihadapan-Nya. Batas yang membuat diriku menjadi sosok yang lemah untuk beberapa saat lamanya dan menjadi sosok yang kuat dalam hitungan detik berikutnya. Ia seperti harta yang paling berharga. Kehilangannya akan sangat menyiksa jiwa. Dia menjadi pembatas antara kebenaran dan kebatilan. Dia pula yang menjadi tempat bermuaranya segala rasa.
Ia laksana dinding yang harus dijaga agar tetap utuh. Ia adalah pembatas untuk mereka yang ingin berbuat maksiat atau ingin tetap taat. Batas yang membuat setiap orang menjadi tarik-menarik diantara dua pilihan. Batas yang seringkali membisikkan kebajikan atau malah keburukan. Batas yang mampu membuat sepasang bola mata ini mengeluarkan isinya. Tersedu dalam setiap renungan dan terisak panjang dalam penyesalan.
Menjaga batas itu agar tetap pada tempatnya adalah suatu keharusan. Menghindarkan dia dari segala macam prasangka buruk dan kemasiatan merupakan suatu kewajiban. Memeliharanya agar tetap utuh dan tak lekas rubuh adalah hal yang memang harus dilakukan. Supaya kelak batas yang telah lama dibangun itu tak cepat usang karena derasnya kesalahan.
Begitu rapuhnya dia hingga mengharuskan setiap insan untuk menjaganya dengan hati-hati. Jika batas itu rusak, maka rusak pulalah bagian yang lainnya. Sebab dia laksana raja, dan yang lain adalah prajuritnya. Sudah sepantasnya batas itu harus dijaga. Dibentengi dari segala hal yang mampu merusaknya. Jangan biarkan batas itu hancur sebab itu akan sangat berbahaya. Karena dengan adanya batas itulah kita dapat mengendalikan diri supaya tetap berhati-hati; #HATI.