Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Desember 2017

NOTES


Kok Pas Banget ya?
Entah kenapa kalau hati lagi patah, gampang banget untuk menemukan hal-hal remeh yang sepertinya sangat mendukung suasana hati kita saat itu, dan itu memberi kesan ‘kok pas banget ya?’
Pas dengan suasana hati yang lagi mendung. Pas dengan kondisi hati yang lagi berantakan. Pas dengan situasi yang seolah tak berpihak pada diri. Pas nemu quote yang senada seperti yang sedang di rasakan. Semuanya serba ‘pas’, serba kebetulan. Seolah semesta mendukung keadaan yang sedang terjadi.
Nggak bisa di bilang patah lagi kalau sudah begitu. Remuk redam, mungkin iya. Jadi semakin terpojokkan. Dan akhirnya semakin sulit untuk beranjak. Tersebab belum bisa merelakan. Belum bisa mengikhlaskan.
Mungkin ikhlas sih sudah bisa. Tapi untuk melupakan? Sepertinya belum bisa. Apalagi kalau patahnya karena di khianati. Beuh! Itu sih butuh waktu lama untuk recovery. Jadi semakin sering deh, nemuin hal-hal yang nggak sengaja muncul sendiri dan semakin meyakinkan diri dengan kejadian yang sedang terjadi.
Kalau bisa sih, segera move on. Sebenarnya bukan soal melupakan, tapi tentang bagaimana kamu terus maju ke depan. Terserah, mau hati masih patah, masih sakit, atau masih perih sekalipun, kamu harus bisa melanjutkan langkah. Nggak boleh berdiam di tempat. Bahaya! Bisa jadi kamu malah semakin kecewa dan itu membuatmu kesulitan untuk berkembang.
Memang sih, kalau hati lagi patah, ada saja hal-hal yang tak terduga bermunculan. Entah bermaksud menyindir atau memojokkan, bahkan mungkin ada beberapa yang malah menguatkan. Yang menjadi bagian inti adalah bagaimana kamu harus segera melanjutkan langkahmu. Tidak diam dan malah sibuk menangisi atau menghujat doi yang sudah bikin kamu jadi patah hati.
Karena kamu juga layak untuk temukan cinta yang baru, yang bisa sembuhkan lukamu, dan kembalikan bahagiamu.

Kamis, 06 Juli 2017

PUISI


Ada detak
yang mengiringi perjalananku
untuk melupakanmu.
Meninggalkanmu dibelakang
bersama dengan kepingan mimpi yang sudah berserakan.

Ada detak
yang menantikanku di perjalananku menuju masa depan.
Yang siap menggantikan duka dengan tawa.
Dan rasa ikhlas melepas kepergianmu.

Ada detak
yang siap ku jalani di masa sekarang.
Merajut kembali benang-benang impian.
Yang sempat tercerai berai karena tangisan kekecewaan.

Detak yang tak bisa hilang.
Detak yang selalu berbilang.
Mengatakan bangkit dari keterpurukan.
Memaksaku bangun setelah jatuh berulang-ulang.

Detak yang mengkiaskan kekuatan.
Detak yang merapatkan langkah.
Detak yang selalu menunjukkan arah langkah kaki ini.
Detak yang selalu membuat diriku ingat
untuk tidak berlama-lama dalam kesedihan
dan menyia-nyiakan waktu yang tersisa.

(Detak)

Kartasura, 03 Juli 2017
By Dewi Suniyah

Rabu, 14 Juni 2017

SAJAK

https://www.pexels.com
Untukmu aku sisihkan, sebagian ruang yang dapat kau gunakan.
Untuk menetap disana. Untuk tinggal selamanya disana.

Ruang yang sengaja aku mendesainnya dengan tanganku sendiri.
Ruang yang sengaja aku peruntukkan untuk dirimu.
Ruang yang sengaja ku buat sunyi.
Jauh dari kesan bising yang mungkin akan mengganggumu.

Aku tahu mungkin kau akan kurang suka.
Tapi cobalah sebentar.
Lama-lama kau pun akan merasa nyaman disana.
Tapi maaf, aku tak dapat menemanimu disana.
Karena ruangan itu memang aku khususkan hanya untuk dirimu.

Kau mungkin akan sedikit ragu saat akan memasukinya.
Tapi lihatlah, ruangan itu tak terlalu buruk untukmu.
Bahkan disana dipenuhi hal indah tentang dirimu.
Lebih tepatnya tentang kita. Tentang aku dan kamu.

Bagaimana? Kau suka, bukan?
Masuklah, dan berdiamlah disana.
Karena aku tahu kau pasti akan menyukainya.
Ya! Hanya kau! Ruangan itu hanya untuk dirimu. Bukan yang lain.

Jika kau bertanya mengapa aku tak ikut menetap disana,
maka jawabannya adalah kamu.
Kamu yang membuat diriku tak bisa ikut menetap bersamamu.
Karena memang tempatmu disini.
Sedangkan aku berada di ruangan yang lainnya.
Yang berbeda darimu. Yang dibatasi sekat
sebagai jarak pemisah antara ruanganmu dengan ruanganku.

Jangan sedih! Suatu saat nanti diruangan ini
akan kehadiran pula sosok lain yang akan menjadi temanmu.
Teman untuk menghabiskan waktu bersamamu.
Teman yang akan selalu ada untukmu.
Baik saat suka maupun duka.
Dan mungkin,
dia lah yang akan menggantikan sosok diriku untukmu.
Mengganti semua hal indah tentang kita dahulu.

Tapi tenanglah!
Hal indah itu tak harus kau hapus paksa dari sana
ketika sosok yang baru itu telah hadir diruanganmu.
Kau hanya perlu melepaskan semua yang masih menggantung
di setiap dinding ruanganmu.
Melepaskannya satu per satu
lalu menggantinya dengan yang baru.
Yaitu tentang kamu dan dia yang menjadi temanmu saat itu.

Baiklah! Aku rasa ini sudah lebih dari cukup.
Saatnya aku pergi dari sini
dan bersiap menuju ruanganku sendiri.
Maaf aku tak bisa menemani.
Karena aku bukan lagi siapa-siapamu,
pun begitu pula denganmu yang bukan lagi siapa-siapaku.
Jadi berbahagialah diruanganmu saat ini.
Aku pun juga akan bahagia diruanganku.

"Karena ruangan itu bernama Kenangan"
Kartasura, 12 Juni 2017
By Dewi Suniyah

Minggu, 28 Mei 2017

SAJAK



RUANG KERINDUAN

Mengutip rindu melalui derasnya hujan
Yang mengguyur pelan-pelan hingga jatuh berpelukan
Memeluk bumi yang sudah lama dinantikan
Tak sabar hati untuk sampai ditempat peraduan

Jiwa gelisah menunggu kabar
Dari dirinya yang sudah lama meraja
Menjadi penghuni tetap disinggasana hatinya
Menaruh harap dengan hati yang tak gentar

Sang perindu mulai menuliskan harapannya
Melantunkan doa dipenghujung malamnya
Melalui sujud-sujud panjangnya
Terangkai bait kerinduan untuk dia yang jauh disana

Ia biarkan doa itu menggema
Memenuhi ruang kesendiriannya
Menyatu dalam kehangatan cintanya
Tenggelam bersama kesunyian yang menjelma

Ia biarkan doa itu melayang
Menuju ke singgasana-Nya
Membiarkan bayu membawanya terbang
Melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya

Hanya keyakinan yang dia miliki
Hingga suatu saat nanti
Ketika semua itu terjadi
Hanya penyatuanlah yang dia ingini.

Seperti hujan yang merindukan bumi
Maka seperti itulah yang ia rasakan kini
Biarkan tetes-tetes air hujan itu menderas
Selayaknya rindu yang semakin berbekas.

Kartasura, 28 Mei 2017
Created by Dewi Suniyah